Menu

“TUWUNG KUNING” MEMBENTUK KARAKTER ANAK SEKALIGUS LESTARIKAN BUDAYA DAERAH

  • Senin, 10 Februari 2014
  • 1284x Dilihat

Tuwung Kuning adalah nama seorang gadis desa yang kelahirannya tidak diharapkan oleh sang ayah, dikarenakan ia lahir berjenis kelamin perempuan. Tuwung Kuning diasuh dan dibesarkan oleh neneknya, orangtua dari ibu Tuwung Kuning. Ia dititipkan oleh ibunya sejak ia baru lahir hingga tumbuh menjadi seorang gadis yang rajin dan cantik. Ibunya terpaksa menitipkan Tuwung Kuning karena ia teringat akan pesan yang disampaikan oleh suaminya ketika hendak bepergian untuk berjudi sabung ayam (tajen) ke tempat yang jauh dalam jangka waktu yang cukup lama. Suaminya berpesan, jika nanti bayi yang lahir berjenis kelamin perempuan maka bayi itu harus dibunuh dan dijadikan makanan bagi ayam petarung peliharaannya. Hingga tiba saat suaminya tahu jika anak yang dilahirkannya berjenis kelamin perempuan dan dibesarkan di rumah ibunya, sejak itulah muncul niat suaminya untuk segera membunuh Tuwung Kuning. Usaha membunuh Tuwung Kuning digagalkan bidadari. Sejak saat itu ayahnya pun tobat dan menjadi sangat sayang kepada Tuwung Kuning.

Sekiranya demikianlah secara singkat isi dari satua ”Tuwung Kuning”, yang diperlombakan dalam lomba masatua tingkat guru Taman Kanak-Kanak pada kegiatan pengembangan minat dan budaya baca berbasis kearifan lokal tahun 2014 yang diselenggarakan Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kota Denpasar dalam rangka memeriahkan HUT ke-226 Kota Denpasar. Lomba masatua dilaksanakan dari tanggal 10 s.d. 13 Februari 2014 dengan diikuti oleh 12 orang peserta, masing-masing tiga orang perwakilan dari tiap kecamatan. Kepala Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kota Denpasar, Rai Anom Suradi mengungkapkan dengan diadakannya lomba masatua pihaknya ingin membangkitkan lagi kebudayaan daerah yaitu masatua, yang keberadaannya dirasakan kian jarang dilakukan oleh para orangtua terhadap anaknya. Disampaikan pula, dipilihnya satua ”Tuwung Kuning” sebagai cerita yang dilombakan tahun ini adalah berdasarkan hasil rapat antara panitia lomba dengan tim juri yang terdiri dari dosen Bahasa Daerah Bali Fakultas Sastra UNUD, dan ahli bahasa dari Yayasan Swadharma Indonesia. Karena menurutnya satua ini memiliki pesan moral yang mendidik serta dapat membentuk karakter anak.